arti GURU & MURID

ReviewReviewReviewReviewReview

Ingatkah kita ketika untuk pertama kalinya berhadapan dengan guru saat pertama kali sekolah, di SD atau TK? Saat itu kita masih seorang bocah kecil mungil, bahkan agak sedikit tambun karena terlalu banyak minum susu supaya pintar kata mamah. Kita saat itu masih belum tahu tentang seluk-beluk kehidupan di sekolah. Kita dituntun oleh ibu atau barangkali ayah, bahkan si bibi pembantu, sopir, tukang kebun (seperti banyak terjadi sekarang), dan dengan hati berdebar kita menyongsong suatu dunia yang baru, yang mungkin kita menghadapinya dengan harap-harap cemas, sekolah!

Banyak anak lain juga dibimbing oleh orang tuanya berkerumun di halaman sekolah, menunggu nasib yang sama dengan kita. Tentu saja kita belum mengenal mereka. Nakal-nakalkah ataukah baik-baik mereka kala itu? Dan Ketika nama kita dipanggil guru, kita menoleh kepada orang tua pembimbing kita. Beliau mengangguk dan tersenyum memberi dorongan. Seakan mengatakan pada kita, “Ayo kamu bisa! Maka dengan malu-malu dan ragu-ragu, kita melangkah menuju guru. Beliau mengulurkan tangannya dengan penuh kasih sayang, tangan yang penuh cinta, tangan yang akan memberikan warna terhadap hidup kita. Beliau menerima kita dengan ramah, sambil mengelus-elus kepala kita kemudian mengajukan beberapa pertanyaan perkenalan kepada kita, “Siapa namamu, umurmu berapa tahun, rumahnya di mana, nama ayahmu siapa, nama ibumu siapa, dst.”

Saat itu mungkin ada pula di antara kita yang tidak tahu nama ayah dan ibu, atau menjawab dengan ucapannya yang kurang jelas, saat itu barangkali kita menjawab semampunya. Mungkin saja jawaban kita tidak benar ataupun kurang jelas kedengarannya oleh beliau. Tapi guru tetap tersenyum mengangguk-angguk, entah apa makna anggukannya itu. Mereka tetap memuji kita, “Bagus Nak! Kau anak yang pintar,” katanya sembari membimbing kita untuk duduk di bangku kelas sekolah yang baru dimasuki.

Demikianlah gambaran yang masih lekat dalam ingatan penulis, bahkan mungkin ingatan kita semua. Kalau ingat masa itu rasanya tak akan seorang pun lupa akan jasa gurunya. Mereka telah memberikan sentuhan keyakinan bagi siswanya untuk masuk melangkah ke dunia baru. Kalau ingat masa itu, rasanya tak akan seorang pun lupa akan jasa gurunya. Yang telah memberikan sentuhan keyakinan bagi siswanya untuk masuk melangkah ke dunia baru. Dunia yang tak pernah dialami sebelumnya, dunia yang dulu gelap kini terang benderang.

Menerawang masa itu, betapa guru kami seorang hebat dan kepintarannya luar biasa, tak ada rasanya orang yang lebih hebat dan pintar seperti mereka. Dalam benak kita kala itu, guru pasti akan tahu jawabannya untuk pertanyaan apa pun, yang mudah ataupun yang sulit. Kalau ditanya siapa orang yang paling pandai di sekitar lingkungan tempat tinggal, di kampung kita, rasa-rasanya jawabannya, “Gurulah yang paling pintar atau paling bisa, tak ada yang lain.” Sebab hampir seratus persen orang tua kami di kampung saat itu buta huruf. Jarang sekali di desa kami yang tahu bahwa ibu kota negara Indonesia adalah Jakarta, atau Provinsi Jawa Barat adalah Bandung, kami tahu itu melalui pelajaran IPS yang diajarkan guru di sekolah. Maklumlah hampir semua warga di desa kami tidak “makan sekolahan”, bahkan para orang tua banyak yang masih merasa presiden RI adalah Soekarno padahal sudah Soeharto.

Ya, guru bagi kami waktu itu merupakan sosok ajaib, kok serba banyak tahu, pandai sekali. Bayangkan pertama kali bisa tahu huruf “abcd” angka 1,2,3,4, dst., gurulah yang membimbingnya dengan sabar di kelas kala itu. Guru kami mengajarkan bagaimana merangkai huruf demi huruf menjadi kata dan kata menjadi kalimat sehingga menjadi nama sendiri, nama ayah, ibu, kakak, adik, dsb., dst. Kalau tak masuk sekolah dan diajari guru, mustahil rasanya semua itu bagi kita. Begitu senang dan bangga kalau hari itu bisa menuliskan sesuatu dan bisa membacanya, terlebih kalau guru menyuruh menuliskan dan membacanya di depan kelas. Pulang ke rumah tak sabar ingin segera menunjukkan kebolehan yang diperoleh dari sekolah pada seisi rumah, termasuk kakek dan nenek.

Kini guru kita kala itu ada yang masih aktif bertugas, purnabakti bahkan mungkin pula yang telah wafat. Tapi seperti kata pepatah, guru tetap guru, tak ada bekas guru ataupun bekas murid, yang ada adalah guru saya waktu sekolah di..! Atau murid saya waktu di sekolah anu..! Saat ini kita banyak yang sudah melupakan arti guru sebagai muridnya. Sering kita merasa bisa seperti saat ini bukan karena guru. Bahkan seorang kawan yang telah berhasil menyelesaikan studinya di sebuah universitas terkemuka merasa bahwa orang yang paling berjasa adalah profesor pembimbingnya di universitas, bahkan merasa karena kerja kerasnya sendiri.

Ya, guru memang seringi terlupakan begitu saja seperti tak pernah ada dan memberikan arti dalam kehidupan kita. Mungkin pula ada benarnya apa yang dikatakan Amelia Stanele, seorang guru teladan tahun 2003 dari Sekolah Menengah Blackmon Road, Ohio City. Katanya, “Orang akan selalu melupakan apa yang kita lakukan. Mereka juga akan selalu melupakan apa yang kita katakan. Tetapi mereka tidak akan pernah melupakan apa yang mereka rasakan karena kita.”

Lain lagi kata Emiel Hamberlin, guru teladan dari Illinois, “Saya ingin murid-murid saya tahu bahwa saya peduli dengan apa yang mereka lakukan dalam hidup. Saya dan guru-guru lain menanamkan sukses ke dalam pikiran mereka, kemudian mendorong, mengguncang, membujuk, meneriaki, dan bahkan kadang memaksakan sukses ke dalam diri mereka.” Lain Stanele dan Hamberlin lain pula Michael B. Kaiser, guru teladan dari Indiana, yang berkata pada muridnya, “Saya peduli pada kalian sebagai seseorang dan akan melakukan apa pun yang saya bisa untuk membantumu meraih sukses, sekarang atau sepuluh tahun kemudian. Kamu adalah murid saya seumur hidup, baik kamu suka atau tidak”. Demikian ungkapan para guru teladan di Amerika yang termuat dalam buku yang berjudul Teacher of the Years. Luar biasa para guru ini.

Ya, guru kami, memang hebat sekali, beliau sabar dan tetap menunjukkan dedikasi yang tinggi terhadap profesi dan murid-muridnya. Beliau berkata pada kami, “Kamu harus terus sekolah yang tinggi, bapak/ibu sudah tidak ada lagi kesempatan, umur sudah tua. Harapan kami, kamulah yang bisa meneruskan cita-cita kami.” Entah apa cita-cita guru kami itu. Mungkin membuat muridnya menjadi orang yang maju, pintar, bener, jujur dan berhasil dalam kehidupannya di kemudian hari. Ungkapan itulah rasanya yang paling tepat untuk melukiskan perasaan guru pada muridnya, seperti halnya orang tua pada anaknya. Mulia sekali harapan dan cita-cita mereka. Rasanya andaikan saja ada di antara muridnya itu jadi presiden, jenderal, profesor, rektor, gubernur, wali kota, atau apa pun, dan mereka baik-baik semua, mereka akan tersenyum penuh bangga. Tapi tatkala murid-muridnya menjadi penjahat, koruptor, maling, penindas rakyat, beliau akan kembali dan berkata, “Wahai muridku! Aku tak pernah mengajari kalian untuk menjadi orang seperti itu, melainkan jadi orang baik-baik yang berguna bagi kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: